Powered By Blogger

Rabu, 07 Oktober 2015

Apa yang kau lihat, Nak?

        Woaaaaa...Apakabar duniaku? sudah sekian lama baru menjamah dunia ini lagi...bisa kembali menulis apa yang saya pikirkan merupakan suatu kesempatan yang sangat menyenangkan dan jarang bagi saya. Hal ini bisa menaikkan mood saya beratus-ratus kali lipat, senangnya melebihi perasaan ketika dilamar suami dulu...(#throwback#lebay... ^__^). Dan, well...saya sengaja membuat blog baru karena terlalu banyak tulisan 'tidak layak' yang harus saya hapus jika masih menggunakan blog lama...hahahha... Dan kesempatan ini akan saya pergunakan untuk menceritakan #latepost story yang masih membuat saya penasaran hingga sekarang...

      Kejadiannya sekitar jam 00:00 atau jam 12 malam, lebih tepatnya sudah masuk Senin, 21 September 2015, karena seingat saya saat itu sudah lewat tengah malam. Ketika kami sedang terlelap tidur, tiba-tiba neng Nanaz, panggilan sayang saya sekeluarga untuk putri pertama saya, menangis dan menjerit-jerit. Sontak saya dan suami langsung terbangun. Dengan refleks saya langsung memeluk dan menciumi si eneng. Saya pikir dia mimpi kali, biasa kan anak kecil suka begitu kalau sedang tidur. Suka tiba-tiba nangis, tiba-tiba ketawa, senyam-senyum sendiri. Biasanya bila sudah dipeluk dan diusap-usap langsung tenang lagi. Tidak halnya kali ini, tangisan neng Nanaz makin kencang dan dia memukul-mukul muka saya. Lalu suami saya pun langsung beranjak dari tempat tidur untuk membuat susu. Saya pun berpikiran sama dengan si ayah, mungkin Nanaz lapar. Setelah susu dibuatkan, dan dotnya disodorkan ke mulut neng Nanaz, bukannya tenang, tangisan malah semakin kencang menjadi-jadi. Tidak sampai disitu, Nanaz pun berteriak-teriak aneh. Di usianya yang baru 18 bulan, memang bahasanya belum bisa dimengerti secara penuh. Kadang neng Nanaz  suka berceloteh aneh yang sayapun tidak mengerti. Sambil setengah mengantuk dan agak oleng, saya pun beranjak dari tempat tidur sambil menggendong Nanaz, sambil memeluk dan tetap berusaha menenangkannya, saya lalu mematikan AC dan keluar kamar. Saya pikir, mungkin Nanaz kedinginan dengan suhu AC yang terlalu rendah. Ketika di luar kamar, saya usapkan minyak kayu putih ke perut dan dadanya. Saya berharap ini bisa sedikit menenangkannya. Yang saya tahu, kalau anak nangis itu, ada beberapa sebab, selain lapar, bisa saja anak kepanasan, gerah, kedinginan, diapersnya penuh, atau merasa nyeri di kepala seperti saat demam atau tumbuh gigi. Satu-satunya cara berkomunikasi mereka agar dimengerti oleh orang dewasa adalah dengan menangis. Makanya saya langsung memeluk, memberi susu, mematikan AC, mengoleskan kayu putih, dan mencoba menenangkan dengan menggendongnya ke luar kamar. Saya yakin itu akan berhasil. Tapi kali ini ternyata tidak....
     Saat di luar kamar, tangisan semakin kencang, suara semakin serak. Nanaz meronta-ronta ingin turun dan menunjuk-nunjuk ke arah dapur. Masih dengan kondisi ngantuk dan agak oleng, saya pun pergi ke dapur dengan Nanaz  masih digendongan. Saya pikir mungkin dia haus, makanya saya langsung ajak dia ke dapur ketika dia menunjukkan tangannya ke arah dapur. Saya lalu mengambil mug kecil dan mengisinya dengan air putih hangat. Saya sodorkan ke mulut Nanaz. Seketika mug itu dihempaskan dengan tangan mungilnya hingga terjatuh. Lama-lama kesabaran saya menghilang. Dengan nada agak tinggi saya bertanya: "Neng sayang kenapa, sih? mau apa?" Ditanya seperti itu, Nanaz malah mencakar muka saya. Dia lalu menunjuk-nunjukkan tangannya ke atas langit-langit, lalu ke kamar mandi. Masih belum sadar juga saya, dengan gontai saya ajak Nanaz ke kamar mandi. Saya pikir dia pingin pipis, atau ingin mengambil bebek-bebekan karet miliknya, atau gayung biru kecil kesukaan dia saat mandi yang suka diajaknya berenang. Memang kadang properti mandinya Nanaz yang seharusnya ada di kamar mandi suka dibawa-bawanya ke ruang tengah atau ke luar rumah. Yah, namanya juga anak kecil, kalo lagi seneng sama satu mainan, walopun cuma gayung kecil, suka dibawa-bawa kemana-mana, bahkan ampe ke kasur. Ketika di kamar mandi, bukan bebek karet atau gayung kecil yang jadi pusat perhatian Nanaz. Dia malah fokus ke arah atas langit-langit sambil berteriak-teriak aneh. Menjerit-jerit dan makin meronta-ronta ingin turun. Astagfirullahaladziim,,,barulah disitu saya mulai sadar, bulu kuduk saya tiba-tiba merinding....
     Pikiran saya lalu melayang ke arah hal-hal mistis. Dengan bergegas saya langsung keluar kamar mandi sambil memeluk erat Nanaz. Saya lalu membaca Alfatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, ayat Kursi, dan surat-surat pendek lainnya yang saya hafal. Saya lalu bilang ke suami, kalau neng Nanaz sepertinya melihat hal-hal aneh. Dengan muka sedikit heran, suami saya malah bilang..."ah, nggak ada apa-apa Bun, si neng mungkin cuma kaget..." Dengan kesal saya menimpali suami saya, "Ya kalo emang kaget, kaget kenapa coba, Yah?". Tanpa menghiraukan ucapan suami saya, saya tetap membacakan doa-doa serta surat-surat pendek yang saya hafal. Tangisan Nanaz makin menjadi-jadi, saya dan suami bingung dibuatnya. Hingga suami langsung menghubungi kakek saya, yang biasa kami panggil 'Apa Haji'. Apa haji, yang saya tahu bisa dan mengerti akan hal-hal seperti ini. Sayangnya Apa tidak menjawab, pasti Apa haji lagi tidur, namanya juga tengah malam. Saya lalu menghubungi mang Ato, paman saya yang memang tinggal serumah dengan Apa Haji. Mang Ato bilang kalo Apa udah tidur. Kalau memang kejadiannya seperti itu, nanti mang Ato bantu doa dari sana biar neng Nanaz bisa tenang dan bobo lagi, itu kata mang Ato. Mang Ato juga bilang kalau saya dan suami diminta mengaji dan membacakan ayat kursi ke kepala Nanaz. Tangisan dan jeritan Nanaz ini berlangsung hampir 90 menit, dari jam 12-setengah 2 malam!!! Dengan sabar saya dan suami tetap membacakan doa-doa dan ayat-ayat Kalamullah. Sepanjang tangisan itu, suara Nanaz semakin serak dan matanya memerah berair. Tubuhnya berkeringat dan bergetar hebat. Tidak tega rasanya Ya Rabb melihat Shahnaz seperti ini. Saya percaya Allah memang menciptakan makhluk yang tak terlihat. Tapi jikalau mereka memang sedang melewati rumah kami, atau memang ada di rumah kami, tolong jangan ganggu Shahnazku, tolong jangan buat neng Nanaz begitu ketakutan seperti ini. Saat itu sayapun ikut menangis. Tak henti-hentinya saya berdoa, beristigfar dan memohon agar neng Nanaz segera tenang dan bobo lagi. Alhamdulillah, sekitar pukul setengah 2 dini hari, Shahnaz mulai tenang, saya langsung memberinya air putih hangat, dilanjutkan memberinya susu. Sambil tetap saya peluk, saya usap-usap ubun-ubunnya, saya lap keringatnya, saya ciumi pipinya. Akhirnya Nanaz terlelap sampai pagi. Esok harinya dia terbangun dengan kondisi masih terlihat syok. Matanya merah dan berkantung. Kasihan sekali melihat neng Nanaz seperti ini. Dia terlihat lemah dan lesu. Lalu sayapun kembali menghubungi kakek saya, Apa Haji. Sayapun menceritakan semuanya. Dengan tenang, Apa hanya bilang: "Nggak ada apa-apa... Udah disiapin belum airnya?" tanya Apa. Lalu saya pun mengarahkan handphone saya ke arah gelas untuk dibacai doa-doa oleh Apa Haji. Kami memang mempercayai ikhtiar penyembuhan alami secara Islami seperti ini, salah satunya melalui media air minum. Dan Alhamdulillah setelah diminumkan air ini, Shahnaz kembali ceria, mau makan dan aktif bermain lagi :)
      Saya pribadi masih ingat yang diajarkan ketika kecil dulu di sekolah agama, di madrasah ibtidaiyah Rohmatul Ummah. Salah satu guru ngaji saya, Pak Khoerudin, pernah bilang...


  • Bila kami sakit, ikhtiar pertama yang kami lakukan ialah beristigfar, Inshaa Allah sakit ini bisa dijadikan sebagai penggugur dosa-dosa kami. Kami juga disarankan memperbanyak shalat sunat dua rakaat, seperti salat Hajat, Tahajud, ataupun shalat-shalat sunat rawatib. Inshaa Allah akan sehat lagi, dengan izin Allah.
  • Jika masih belum ada perkembangan, kami dianjurkan sesering mungkin membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, dan surat-surat lainnya lalu ditiupkan ke air minum kami. Inilah Ruqyah untuk diri sendiri. Inshaa Allah akan sehat lagi, dengan izin Allah.
  • Jika masih sama, kami disarankan melakukan ikhtiar yang ketiga, yaitu bersedekah, dengan niat mendapatkan pahala kebaikan, serta dijadikan jalan penyembuh sakit kami. Inshaa Allah akan sehat lagi, dengan izin Allah.
  • Jika masih sama, kami dianjurkan untuk bertaubat, memohon dengan lebih pada Allah. Mengingat dosa-dosa yang telah diperbuat dan tidak mengulanginya. Inshaa Allah akan sehat lagi, dengan izin Allah.
  • Jika masih belum sembuh juga, kami disarankan melakukan pengobatan oral, dengan meminum madu, habbatussauda, ataupun ramuan alami Tibbun Nabawi lainnya. Inshaa Allah akan sehat lagi, dengan izin Allah.
  • Ikhtiar selanjutnya, kami disarankan untuk mengkonsumsi makanan-makanan herbal penyembuh, seperti bawang putih, buah Tin, buah Zaitun, Kurma, dan lain-lain seperti yang disebutkan di Al-Quran. Inshaa Allah akan sehat lagi, dengan izin Allah.
  • Jika belum sembuh juga, barulah kami berikhtiar mendatangi penyembuh atau dokter Muslim yang Saleh/Salehah. Inshaa Allah akan sehat lagi, dengan izin Allah.
Ikhtiar di atas ternyata tidak hanya saya tahu dari guru ngaji saya, saya juga mendapatkan broadcast message dari teman-teman saya melalui aplikasi chatting. Dengan isi ikhtiar yang sama, bersumber dari seorang ustadzah asal Makassar yang bernama ustadzah Kamriyah.
      
      Pengalaman malam itu jujur masih menyisakan rasa penasaran yang sangat tinggi. Sebenernya, apa sih yang dilihat neng Nanaz saat itu?????

...Wallahualam bisshawab....




@shilmilicious
wed, 7th Oct 2015.